STREAMING RSB 94,1 FM

Tampilkan postingan dengan label sirahnabawiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sirahnabawiyah. Tampilkan semua postingan

19 April 2012

Berperan Sebagai Pemuda

15.59WIB


Sebagian besar populasi didunia diisi oleh pemuda,dan berbagai perubahan yang significan pun dibuat oleh pemuda, maka jika para pemuda itu sudah kehilangan kemampuan mereka untuk menjalani peran tersebut maka jangan kaget kalau dunia ini akan segera punah karena tidak ada yang mengurusi lagi, tidak mungkin para orang tua kita yang akan terus – menerus mengisi lembar demi lembar sejarah ini.

Dalam goresan sejarah kita banyak sekali mendapati peran pemuda yang lebih dominan mengisinya, mulai dari zaman nabi dan rasul hingga proses kemerdekaan NKRI bahkan hingga saat ini, namun saat ini para pemuda kita banyak yang lupa akan peran besarnya dan kini lebih asyik menikmati kehidupan yang destruktif dan terkesan aneh dan tabu jika membicarakan peran mereka yang sebenarnya karena mereka sudah merasa nyaman didunia mereka yang saat ini atau memang kita membiarkan mereka nyaman atau bahkan lebih parah lagi sengaja membuat mereka nyaman.

Pemuda diibaaratkan sebagai supir mobil dan dunianya adakalah mobil itu sendiri, bagaimana jadinya kalau supir itu tidak dapat mengendalikan mobil itu atau bayangkan jika suir itu dalam keadaan mengantuk atau tertidur dalam kondisi mobil itu masih berjalan, tentu saja itu akan membahayakn dirinya dan para penumpangnya tentu saja. Jadi jangan sampai kita yang dikuasai dunia apalagi kita tidak sadar bahwa dunia ini terus berjalan dan kita masih tertidur pulas dengan nyaman.

Seorang sahabat dari kalangan khulafaur rasyidin mengatakan ”ya Allah biarkan aku menguasai dunia ini dengan genggamanku dan jangan kau masukan ia kedalam hatiku”. Sebagaimana kita tahu sebagian besar sahabat sasulullah adalah para saudagar kaya dan konglomerat, bahakan dalam masa kepemimpinan khalifah umar bin abdul azis baitu mal pada saat itu sangat kerepotan untuk menampung dana zakat yang ada karena semua oranga pada saat itu berlomba – lomba untuk berzakat sebanyak – banyaknya sehingga petugas baitul mal bingung untuk mencari para musatahik yang akan menerima zakat tersebut. Itulah gambaran mengapa kita juga harus menguasai dunia ini tapi jangan sampai kita yang dikuasai dunia

Banyak faktor yang membuat para pemuda kehilangan arah dan melupakan peran mereka sebagai agent of change atau agen perubahan, pertama, al jahlul(kebodohan), tingkat intelektual dinegeri ini memang sangat rendah hanya sedikit dari pemuda di Indonesia berpendidikan formal yang memadai, bahaka sebagian besar berakhir di jalanan atau bahkan berurusan dengan aparat keamanan karena tindak kriminal menurut data peringkat Indonesia dalam bidang sains, matematika, pemecahan masalah dan membaca yang dilakukan oleh OECD hanya menempati urutan ke 38 dengan nilai 360 hanya lebih baik 1 pon dari Tunisia dan masih kalah dari negara asia tenggara lain seperti Thailand.

Para pemudanya sangat sulit untuk berpikir jernih dan lebih suka mencari jalan pintas yang cenderung merugikan. Kedua, al dha’fu tarbiyah ( kelemahan pendidikan/pembinaan), negara kita sangat lemah dalam bidang pembinaan para generasi mudanya tidak ada kaderisasi yang baik dalam segala aspek, contoh daam dunia olahraga banyak anak muda yang kurang terberdayakan untuk berprestasi disamping tidak adanya jaminan hidup yang jelas sebagai duta bangsa dalam bidang olahraga, dukungan inilah yang saya rasa sangat kurang bagi kterlangsungan pembinaan di negeri ini.

Ketika saya masih duduk dibangku SMA dan aktif diorganisasi saya sangat merasakan sistem yang sangat tidak mendukung untuk pembinaan para pemudanya disamping dukungan yang kurang dari pihak sekolah, ketika saya mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan disekolah memang beberapa guru yang sangat mendukung tapi dukungan sistem yang ada disekolah itu sendiri yang akan lebih berarti dalam proses pembinaan tersebut, disamping itu pembinaan moral yang sangat minim diberikan, contoh di televisi kita dapat menilai betapa rendahya edukasi yang diberikan untuk masyarakat disamping tidak adanya regulasi yang tegas untuk itu, mungkin hanya TVRI yang masih cukup banyak tayangan yang cukup mendidik namun sangat sedikit sekali diminati karena kalah kemasan dari stasiun televisi swasta yang lain yang menawakan program – program yang menarik.

Disekolah – sekolah pun demikian frekuensi untuk peminaan moral itu sangat sedikit pendidikan agama hanya diberikan 2 jam dalam satu minggu, maka optimalisasi ROHIS disekolah sangat penting, namun terkadang banyak sekolah yang tidak mendukungnya dengan baik sehingga perannya jadi kurang maksimal disamping beberapa faktor lain yang membuat peran ROHIS jadi kuran maksimal yang tidak saya urai disini, lalau orang tua juga sangat protektif jika anak mereka ikut kegiatan yang berhubungan dengan ROHIS, mereka sangat antusias anaknya ikut klub basket, klub matematika atau bahasa inggris disekolah dibandingkan ikut ROHIS.

Ketiga, al dha’fu tsaqofiyah (kelemahan ilmu pengetahuan), disamping pendidikan dan pembinaan yang kurang, ilmu pengetahuan yang diterima setengah – setengah para pemuda banyak yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dunia islam diluar sana dan konspirasi besar yang sedang mengancam peradaban islam sehingga karena mereka tidak tahu jangan harap mereka akan peduli apalagi melakukan gerak nyata, kelemahan ini sangat mudah dimanfaatkan oleh kaum – kaum kafirin untuk mempropagandakan program-progam mereka.

Lalu karena ilmu pengetehuan yang dimiliki rendah karena pendidikan yang rendah dapat dimanfaatkan pula oleh kaum kafirin tersebut untuk menjajah secara perlahan dengan menguasai sumber daya yang ada dan memonopolinya sehingga kita akan mengemis – ngemis dinegeri sendiri.

Keempat,al dha’fu tanzimiyah (kelemahan dalam pengorganisasian), ”kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir” begitulah kira – kira nasihat dari sahabat nabi Ali bin Abi Thalib yang menggambarkan urgensi manajerial dalm suatu organisasi atau jamaah.

Ironi memang ketika banyak organisasi atau ormas islam bahkan partai politik berbasis ideologi islam di negeri ini yang seharusnya dapat menjadi stabilator malah sekarang gontok-gontokan demi kepentingan golongan yang cenderung keduniaan belum lagi masalah intern yang cukup pelik di tubuh mereka sendiri inilah yang seperti dikatakan oleh rasulullah bahwa di masa nanti umat islam jumlahnya sangat banyak tapi bagaikan buih dilautan, sebenarnya potensi kebersatuan itu sangat ada namun terkadang perbedaan persepsi tentang hal – hal yang masih ada pertentangan atau khilafiah itu yang menjadi fokus kita itulah yang akan membuat kita tak akan dapat bersatu. Alangkah indahnya jikka kita semua bersama dalam toleransi dan satu visi kedepan untuk menjayakan dienul islam bukan golongan apalagi pribadi.

Karena jika organisasi yang menyeru islam tidak dapat mengatur da’wahnya dengan baik maka akan berdampak pada kualitas objek da’wah itu sendiri, diharapkan organisasi – organisasi keislaman tersebut mempunyai orientasi yang jelas dan memiliki unsur ukhuwah, ruhiyah, dan hamasah dan tentu saja fikriyah yang baik dari setiap angotanya karena hanya dengan kedekatan denganNya lah yang akan mempermudah da’wah islam yang mulia ini.

Kelima,dha’fu akhlaq (lemah akhlaq), inilah output yagn akan terlihat dari dari diri seseorang. Maka jika keempat hal diatas terus terjadi dan dibiarkan berlarut-larut akan sulit rasanya melihat kebangkitan umat islam karena pemuda adalah pengisi garda terdepan dalam perjuangan penegakkan panji – panji islam.

Saat ini kebobrokan akhlaq para pemuda sudah sangat terlihat jelas, pergaulan bebas yang tak terkontrol dan dianggap sebuah identitas bagi para kaula muda, bahkan orang yang tidak mengikuti gaya pergaulan itu dibilang kolot, nggak gaul dan kuper katanya.

Kelemhan inilah yang sngat terlihat karena saya bilang tadi inilah output yang akan langsung dilihat oleh masyarakat, banyak faktor yang membuat kobobrokan moral ini seolah berkesinambungan diantaranya peran media yang sangat membantu hal yang disebut al ghazwul al fikr atau perang pemikiran inilah perang yang diingatkan oleh Rasulullah sebagai perang yang lebih hebat dari perang badar yang maha dahsyat, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Para kaum – kaum kafirin sangat mengetahui bahwa umat islam sangat sulit jika dilawan dengan kontak fisik secara langsung hanya dengan mengaburkan pandangan melalui hal – hal yang berbau kenikmatan dunia umat islam akan lebih mudah ditaklukan, kita lihat di semua media elektronik, cetak dan sebagainya melakukan konspirasi yang sangat baik untuk menghancurkan umat islam dari dalam, mulai dari tayangan ditelevisi yang hanya menyugguhkan tayangan yang mendidik untuk bergaya hedonisme dan konsumtif yang destruktif bagi perkembangan moral pemuda, tayangan ynag berkedok religi juga malah sangat kental dengan mistis, di internet dan majalah – majalah pun kian merebak hal-hal yang berbau pornografi bahkan akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita vcd film anak-anak yang tiba-tiba diselingi adegan yang sangat tidak pantas untuk dilihat anak dibawah umur, saat ini pemerintah sedang sngat gencar untuk membatasi situs-situs porno yang ada namun sangat ironi karena belum ada regulasi yang jelas untuk hal itu.

Faktor yang berikutnya adalah krisis keteladanan yang sedikit banyak juga dipengaruhi oleh peran media, saat ini para pemuda lebih senang mengikuti gaya artis dalam dan luar negeri dan otomatis juga dengan gaya hidupnya yang kebarat-baratan yang sangat jauh dengan budaya islam, padahal Allah telah mengatakan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah tauladan yang baik dan Rasulullah mengatakan bahwa nanti akan masuk uga atau neraka manusia bersama oranga yang diidolakannya, jadi sekarang tinggal pilih mau mengidolakan yang sudah pasti menjamin kita akan surgaNya beserta segal akeindahan didalamnya atau sebaliknya.

Lalu faktor berikutnya yang tidak kalh penting adalah peran orang tua yang menjadi pelukis warna dasar pada anak-anaknya, pendidikan moral harus dihujamkan dengan mantap diwilayah keluarga ini, saya sangat yakin jika semua orang tua berkomitmen dan konsisten dalam tarbiyatul islamiyah ini maka secara kontinu kualitas pemuda akan semakin baik dan menjadi tolak ukur kemanjuan bangsa dan agama. Lalu yang berikutnya adalah peran para penyeru kebaikan atau da’i yang harus terus berjuang dan menjadi stabilitator di masyarakat dengan ikhlas penuh kualitas dan efektifitas sehingga peradaban ini akan semakin baik.

Kini saatnya bagi kita semua untuk berperan sebagai pemuda tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang lebih tua. Entah itu sebagai pelajar,mahasiswa, pekerja, politisi, polisi, guru, da’i atau apapun kita hari ini mari lakukanlah peran kita sebagai pemuda dengan sebaik-baiknya yaitu sebagai garda depan kemajuan bangsa dan agama ini karena inilah amal kita yang akan terus berjalan walaupun kita sudah tiada bukan hanya untuk kita semata sebagaimana dikatakan oleh syeikh sayyid quthb ”barangsiapa yang hidup untuk dirinya sendiri ia akan hidup dalam keadaan kerdil dan mati dalam keadaan kerdil namun orang yang hidup untuk orang lain maka ia akan hidup dalam keadaan besar dan mati juga dalam keadaan besar” tapi juga untuk keberlangsungan baik atau buruknya generasi setelah kita nanti.

Kurnia P. Wijaya
Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kordinator Kaderisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UIN Syahid, Menteri Agama dan Dakwah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Non Reguler, Crew dan Pengisi Kajian Siroh Nabawiyah di Radio Suara Baiturrahman 94.1 FM



continue reading

4 Juli 2011

Sejarah Komunitas Khawarij

14.09WIB

Islamedia - Khawarij artinya adalah orang-orang yang keluar. Bentuk kata ini jamak. Bentuk tunggalnya adalah khoorij. Istilah ini disematkan pada sekelompok orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib r.a. saat terjadi perundingan antara kelompok Ali dan Muawiyah r.a. Berkata Abu Hasan Al-Asy`ari: "Dan sebab penamaannya dengan khawarij adalah pemberontakan mereka terhadap Ali bin Abi Thalib." Ibn ‘Umar memandang mereka sebagai makhluq Allah yang jahat. Menurutnya: “Mereka telah mengenakan ayat-ayat yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir kepada orang-orang beriman.”

Jauh sebelum khawarij eksis sebagai sebuah kelompok, keberadaan khawarij sebagai sebuah watak telah Rasulullah saw singgung. Saat itu Rasulullah saw sedang membagikan harta rampasan perang dari Perang Hunain. Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma menceritakan, “Ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Ji’ranah sepulangnya beliau dari -peperangan- Hunain, ketika itu di atas kain Bilal terdapat perak yang diambil sedikit demi sedikit oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibagikan kepada orang-orang. Kemudian lelaki itu mengatakan, ‘Hai Muhammad, berbuat adillah!’. Maka Nabi menjawab, ‘Celaka kamu! Lalu siapa lagi yang mampu berbuat adil jika aku tidak berbuat adil. Sungguh kamu pasti telah celaka dan merugi jika aku tidak berbuat adil.’ Maka Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu berkata, ‘Biarkanlah saya wahai Rasulullah untuk menghabisi orang munafiq ini.’ Maka beliau bersabda, ‘Aku berlindung kepada Allah, jangan sampai orang-orang nanti mengatakan bahwa aku telah membunuh para sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya adalah suka membaca al-Qur’an akan tetapi bacaan mereka tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka. Mereka keluar darinya sebagaimana keluarnya anak panah yang menembus sasaran bidiknya.’” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga menyindir tentang watak khawarij dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya di belakang orang ini akan muncul suatu kaum yang rajin membaca al-Qur’an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka. Mereka membunuhi umat Islam dan justru meninggalkan para pemuja berhala. Mereka keluar dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari sasaran bidiknya. Apabila aku menemui mereka, niscaya aku akan membunuh mereka dengan cara sebagaimana terbunuhnya kaum ‘Aad.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan, “Di dalam hadits ini terkandung dorongan untuk memerangi mereka -yaitu Khawarij- serta menunjukkan keutamaan Ali radhiyallahu’anhu yang telah memerangi mereka.”

Pasca pembunuhan Utsman bin Affan r.a., Madinah dalam keadaan kemelut. Setelah mengalamai kekosongan kepemimpinan selama beberapa hari, Ali bin Abi Thalib terpilih secara sah sebagai amirul mukminin.

Muawiyah yang masih kerabat Utsman menginginkan agar semua yang terlibat pembunuhan Utsman dihukum. Sedangkan Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa yang patut dibunuh hanyalah pembunuh Utsman saja, karena sulit mengidentifikasi semua yang terlibat pembunuhan Utsman bin Affan. Perbedaan pendapat ini menyebabkan ketegangan hingga Muawiyah mempersiapkan pasukannya di Syam.

Mendengar kabar persiapan Muawiyah, Ali segera mempersiapkan pasukan untuk meredakan pemberontakan Muawiyah. Namun rencana itu diinterupsi oleh pemberontakan Aisyah, Thalhah dan Zubair bin Awwam. Pemberontakan ini pun dipicu oleh perbedaan pendapat pula. Ali menginginkan stabilitas negara dan investigasi kasus pembunuhan Utsman secara mendalam, sedangkan pihak Aisyah menginginkan qishosh bagi pembunuh Utsman dipercepat.

Pasukan yang telah dipersiapkan Ali terpaksa dibelokkan ke Basrah untuk menghadapai pasukan Aisyah. Pertemuan Ali dan Aisyah sesungguhnya menghasilkan kesepakatan yang membawa perdamaian. Tetapi kaum munafikin tidak menghendaki perdamaian ini. Malam harinya mereka menyusup ke barisan Thalhah dan Zubair lalu melakukan penyerangan mendadak. Karena mengira diserang, kubu Thalhah dan Zubair pun melancarkan serangan balasan sehingga terjadi pertempuran. Peperangan malam hari yang dimenangkan pasukan Ali ini disebut Perang Jamal. Pertempuran ini memakan dua orang sahabat yang telah dijamin masuk surga: Thalhah dan Zubair. Aisyah sendiri dikembalikan secara terhormat ke Madinah.

Kemudian perhatian beralih ke kelompok Muawiyah. Di Shiffin kedua kelompok ini bertemu. Pertempuran pun pecah. Pasukan Muawiyah terdesak. Ketika pasukan Ali hampir mendapatkan kemenangan, kelompok Muawiyah mengacungkan Al-Qur'an sebagai isyarat untuk berdamai. Ali pun menyetujuinya. Proses selanjutnya disepakati untuk melakukan perundingan kesepakatan damai diwakili utusan masing-masing kelompok di Daumatul-Jandal. Kelompok Muawiyah diwakili 'Amr binAsh, sementara 'Ali diwakili Abu Musa Al-Asy'ari. Kedua pasukan pulang ke tempat masing-masing dan menyerahkan persoalan tahkim pada dua orang tersebut.

Kelompok khawarij memperlihatkan wataknya pada peristiwa ini. Mereka tiba-tiba mundur begitu saja di saat perang tengah berkecamuk dan kelompok Muawiyah mengacungkan Al-Qur'an. Mereka mendesak Ali untuk berdamai dengan Muawiyah. Mereka berdalil dengan QS. Ali ‘Imran [3] : 23: Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).

Lalu ketika tahkim ditempuh, mereka pun malah spontan berbalik menolak, juga dengan dalil Al-Qur'an. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah (QS. Al-An’am [6] : 57). Jargon "Inil-hukmu illa lil-’Llah" inilah yang memicu Ali mengeluarkan kata-kata yang sangat terkenal: Kalimatu haqqin yuradu biha bathil. Maksudnya adalah pernyataan Khawarij itu adalah kata-kata yang benar. Hanya saja mereka menempatkan pada posisi yang salah.

Kelompok khawarij ini berada dalam kelompok Ali. Di perjalanan pulang, mereka membelot dan keluar dari barisan. Jumlah mereka antara 8000-10000 orang, berkumpul di sebuah tempat bernama Harura. Dan saat itu mereka terkenal dengan panggilan Haruriyyah. Ali mengutus Ibn Abbas berdialog dengan Khawarij/Haruriyyah untuk menjelaskan kebenaran. Saat itu Ibn ‘Abbas menjelaskan bahwa pengambilan keputusan dengan diwakilkan kepada manusia jelas dibenarkan oleh Islam, dan tidak bisa dipandang kafir, tentunya sepanjang berdasar pada hukum Allah. Dalilnya, menurut Ibn ‘Abbas, firman Allah swt dalam QS. An-Nisa` [4] : 35: "Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." Maka sebagian dari khawarij bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.

Eksistensi Khawarij makin menguat saat mereka mengangkat Abdullah bin Wahab ar Rasibi. 

Walau pun khawarij memberontak, Ali bin Abi Thalib masih memperbolehkan mereka datang ke masjid tanpa dihalang-halangi. Mereka berhak mendapatkan fa'i, dan tidak boleh diperangi selama mereka tidak memerangi umat Islam.

Hanya saja, di zaman kepemimpinan Ali mereka banyak membuat keonaran. Mereka membunuh Abdullah bin Khabab bin Irits dan istrinya. Suatu saat mereka bertemu dengan Abdullah bin Khabbab. Mereka berkata kepadanya, “Siapakah anda?” Beliau menjawab, “.Aku adalah Abdullah bin Khabbab, sahabat Rasulullah saw. kalian telah membuat aku takut.” Mereka berkata, “Tidak mengapa, sampaikanlah kepada kami apa yang engkau dengar dari ayahmu.” Beliau berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: 'Akan terjadi fitnah, orang yang duduk dalam fitnah tersebut lebih baik daripada orang ‘yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.'" Lalu mereka menyeret Khabbab ke sungai dan memenggal lehernya. Tak cukup dengan itu, mereka juga mendatangi istri Khabbab. Istri Khabbab berkata, "Aku adalah wanita yang sedang hamil, tidakkah kalian takut kepada Allah SWT?" Ucapan itu tidak berpengaruh apa-apa. Istri khabab dibunuh dan perutnya dibelah hingga janinnya dikeluarkan.

Pada akhirnya Ali bin Abi Thalib mengutus pasukan untuk memerangi kelompok Khawarij hingga pecahlah pertempuran Nahrawan. Pertempuran ini berhasil memberangus pemberontak. Pemimpin-pemimpin Khawarij seperti Abdullah bin Wahab, Hurqush bin Zuhair, Syuraih bin Aufa dan Abdullah bin Syajarah as-Sulami tewas. Sementara pasukan Ali hanya terbunuh tujuh orang saja. Saat dikumpulkan orang-orang yang terluka dari pihak Khawarij, jumlah mereka empat ratus orang. Ali menyerahkan mereka pada kabilah-kabilah mereka untuk diobati. Ali pun tidak mengambil harta rampasan perang dari mereka.

Saat Ali ditanya tentang pasukan Khawarij dalam perang Nahrawan apakah mereka termasuk kaum musyrikin?’ Ali menjawab, ‘Justru mereka menghindar dari kemusyrikan.’ Ada lagi yang bertanya, ‘Apakah mereka termasuk kaum munafikin?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya kaum munafikin tidak mengingat Allah SWT. kecuali sedikit’ Kemudian ada yang bertanya, ‘Lalu bagaimanakah kedudukan mereka wahai Amirul Mukminin?’ Ali menjawab, ‘Mereka adalah saudara-saudara kita yang membangkang terhadap kita. Kita memerangi mereka karena pembangkangan mereka itu’.

Begitulah sejarah Khawarij sebagai sebuah komunitas pemberontak. Tapi sampai saat ini hingga kiamat akan tetap ada manusia berwatak khawarij. Cirinya adalah mereka menghalalkan darah kaum muslimin. Mereka mudah saja membunuh Abdulllah bin Khabbab.

Dalam Sunan ad-Darimi diriwayatkan bahwa shahabat Ibn Mas’ud pernah memperingatkan beberapa orang yang membuat lingkaran-lingkaran dzikir di masjid sebagai perbuatan bid’ah. Saat itu Abdullah ibn Mas’ud memperingatkan:

Celaka kalian hai umat Muhammad, alangkah cepatnya kalian binasa. Padahal para shahabat Nabi kalian, saw, masih banyak, baju Rasul belum musnah, bejana-bejanannya belum hancur. Demi Allah, apakah kalian mengira ada dalam millah yang lebih bagus daripada millah Muhammad, ataukah justru kalian membuka pintu kesesatan?” Mereka menjawab: “Wahai Abu ‘Abdirrahman, maksud kami baik.” Jawab ‘Abdullah: “Bukankah banyak dari orang yang bermaksud baik tapi ia tidak mencapai kebaikan!? Sesungguhnya Rasulullah saw sudah mengingatkan kita akan adanya sekelompok orang yang mereka membaca al-Qur`an, tapi tidak bisa melewati tenggorokan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu, bisa jadi kebanyakan dari kalian termasuk dari mereka.” Kemudian ‘Abdullah ibn Mas’ud pergi meninggalkan mereka.

Kata ‘Amr ibn Salamah (salah seorang perawi riwayat di atas): “Kami lihat kebanyakan dari orang-orang yang ikut di lingkaran-lingkaran (halaqah) tersebut menyerang kami pada hari Nahrawan bersama Khawarij.” (Sunan ad-Darimi kitab al-muqaddimah bab fi karahiyah akhdzir-ra`yi no. 204. Hadits dinilai shahih oleh al-Albani [as-Silisilah as-Shahihah 5 : 4])

Kaum Khawarij juga dijuluki "Anjing-Anjing Neraka" oleh Rasulullah saw.

Diriwayatkan pula dari Sa’id bin Jamhan, beliau berkata: “Saya masuk menemui Ibnu Abi Aufa dalam keadaan beliau telah buta, aku berikan salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku, kemudian bertanya: “Siapakah engkau ini?”. Aku menjawab: “Saya Sa’id bin Jamhan”. Dia bertanya lagi: “apa yang terjadi pada ayahmu?” Aku menjawab: “Dia dibunuh oleh sekte Azariqah”. Maka Ibnu Abi Aufa mengatakan tentang azariqah: “Semoga Allah memerangi Azariqah, sungguh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan kepada kami: Ketahuilah bahwa mereka adalah anjing-anjing penduduk neraka”.

Aku bertanya: “Apakah sekte azariqah saja atau seluruh khawarij?” Beliau menjawab: “Seluruh khawarij”. (As-Sunnah Ibnu Abi Ashim hal. 428 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dhilalul Jannah)

Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam juga memuji orang-orang yang membunuh mereka. Sebaliknya beliau shalallahu ‘alaihi wasallam mencerca mayat-mayat mereka dengan kalimat “sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit”.

Diriwayatkan dari Abu Ghalib bahwa ia berkata: ”Pada saat aku berada di Damaskus. Tiba-tiba didatangkanlah tujuh puluh kepala dari tokoh-tokoh Haruriyyah (khawarij) dan dipasang di tangga-tangga masjid. Pada saat itu datanglah Abu Umamah r.a., seorang Rasulullah saw, masuk ke masjid. Beliau shalat dua rakaat, dan keluar dan menghadap kepala-kepala tadi dengan meneteskan air mata. Beliau memandangnya beberapa saat seraya berkata: ”Apa yang dilakukan oleh iblis-iblis ini terhadap ahlul Islam?” (tiga kali diucapkan). Dan beliau berkata lagi: ”Anjing-anjing neraka” (juga tiga kali diucapkan). Kemudian beliau berkata:

”Mereka sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit, dan sebaik-baik mayat adalah orang yang dibunuh olehnya.” (tiga kali).


Sumber:

continue reading